Saturday, May 31, 2014

China Trip - Day 6 : Shanghai – Wuxi

Good morning Shanghai! Pagi ini kami akan mengunjungi salah satu icon kota Shanghai yang paling terkenal, Menara TV Shanghai. Ruang makan hotel cukup luas dan juga bergaya minimalis dan modern, just nice. Breakfast di Holiday Inn Express Shanghai ini cukup memuaskan, terutama bakpao manisnya. Dalam sekejap saja bakpao manis ini sudah habis disikat para tamu, dan saya harus menunggu cukup lama untuk ‘refill’. Maklum, belum puas makan karena pertama kali saya hanya ambil sedikit, dan juga faktor ukuran bakpao ini yang kecil. Tapi paling tidak penantian saya tidak sia-sia, karena sebelum jam makan berakhir dan harus berangkat tour, saya masih sempat mencicipi beberapa bakpao. Happy ending deh pokoknya hehe. 
Dining Room @ Holiday Inn Express
Setelah itu kami berkumpul di depan lobby hotel untuk menunggu bis yang akan membawa kami ke menara TV. Pagi itu langit masih agak berkabut dengan angin yang dingin, brrrr....tapi paling tidak patut disyukuri karena tidak hujan. Pagi ini untuk pertama kalinya kami akan melihat wajah Shanghai yang lain, Shanghai yang baru dan modern di distrik Pu Dong, di sisi sebelah timur sungai Huang Pu. Di area ini penataan kotanya sudah serba modern, dengan rentetan bangunan pencakar langit yang banyak diantaranya merupakan kantor perusahaan-perusahaan multinasional. Kalau di distrik Pu Xi alias Shanghai lama saya kurang begitu terkesan, di area baru ini saya cukup terkesan.

Sesampainya di area menara TV, kami harus menunggu sementara tour guide membeli tiket masuk. Sambil menunggu, tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakan waktu. Waktu tunggu ini saya manfaatkan untuk menikmati pemandangan sekitar dan foto-foto. Cuma sayang langit masih sedikit berkabut, sehingga foto-foto saya mengabadikan gedung-gedung pencakar langit kurang begitu jelas. Setelah tour guide kembali dari membeli tiket, kami segera memasuki area dalam menara. Di pintu masuk selain dijaga petugas keamanan juga dijaga oleh Bomb Dog, anjing berjenis Golden Retriever yang dilatih untuk membantu seandainya ada ancaman bom. Keadaan di dalam gedung serasa  seperti sedang berada di dalam mall saja. Ada deretan pertokoan, bahkan pameran mobil. Kami menuju ke lift untuk naik ke atas, ke viewing area setinggi 260 meter untuk melihat pemandangan kota Shanghai dari atas. di dalam lift ada petugas yang menyapa dan memberikan info singkat tentang gedung ini. Berhubung gedung ini merupakan objek wisata yang terkenal, tidak heran kalau pengelolaannya pun profesional. 
Shanghai TV Tower
Sesampainya di atas, kami diberi kebebasan untuk jalan-jalan sendiri. Sekali lagi, sangat disayangkan pagi itu masih berkabut sehingga pemandangan yang bisa dilihat menjadi tidak maksimal. Tapi berhubung ini masalah force majeure, lebih baik nikmati saja situasi yang ada. Teropong yang disediakan pun rasanya tidak akan terlalu besar manfaatnya di cuaca seperti ini. Saya berjalan mengelilingi viewing area ini, dan di suatu bagian, lantai sengaja dibuat dari kaca tebal yang tembus pandang supaya pengunjung bisa melihat pemandangan di bawah kaki mereka. Yang seperti ini kayaknya sedang menjadi trend, pencakar langit dengan ruang atau tempat dengan lantai transparan dari kaca untuk melihat pemandangan di bawahnya. Tersedia jasa pengambilan foto sambil berpose di area ini. Tidak murah, harus merogoh kocek sebesar 30 Yuan. Di atas sini juga terdapat restoran putar, tapi bisa ditebak menunya cukup mahal, sesuai lokasinya. Dan seperti standard tempat-tempat wisata, tempat ini pun dilengkapi dengan gift shop yang menjual souvenir dan aksesoris bertema menara ini dan sejenisnya.  Jangan tanya soal harga barang-barang yang dijual deh. Setelah selesai mengelilingi viewing area yang tidak begitu luas ini, kamipun turun kembali ke bawah. 
Pemandangan Shanghai dari viewing area TV Tower
Keluar dari gedung, peserta tour diberi kesempatan untuk mengambil foto dengan latar TV Tower ini dengan membayar 30 Yuan, dapat bonus bingkai. Foto ini sebenarnya hanya hasil editing di komputer, karena angle yang dipakai untuk mengambil foto jelas tidak memungkinkan untuk mengambil foto TV Tower ini secara keseluruhan. Tapi selama hasilnya bagus, para turis ini juga tidak perduli fotonya hasil edit atau bukan. Kebanyakan juga tidak mengerti soal ini :)

Ketika akhirnya kami meninggalkan area ini, tidak terasa hari sudah siang dan sudah waktunya makan siang. Oleh tour guide, kami dibawa ke sebuah restoran Thailand yang terletak di dalam sebuah gedung yang bernama Amanda Plaza. Makan masakan Thai di China? I know, mungkin layak masuk acara Ripley’s Believe It or Not hehe. But you know what? Sejauh perjalanan tour ini, inilah menu paling enak yang pernah saya santap! Ironis memang...Design interior restoran juga cukup menarik, membuat suasana santap siang waktu itu semakin komplit. Selesai makan siang, kami kembali ke bis untuk melanjutkan perjalanan kota berikutnya, Wuxi. Tapi menurut rencana, beberapa hari ke depan kami masih akan kembali ke Shanghai untuk naik kapal sambil menikmati pemandangan kota Shanghai di malam hari, yang belum sempat kami lakukan kali ini. So goodbye for now, Shanghai.
Thai food in China
 Tour guide pun berpamitan dengan kami karena tidak ikut ke Wuxi. Sesampai di sana akan ada tour guide lokal yang menjadi pemandu. Sepanjang perjalanan, tidak terlalu banyak pemandangan yang bisa dilihat selain rentetan gedung-gedung tinggi yang sedang dibangun. Kelihatannya sih bangunan-bangunan ini merupakan gedung-gedung apartment. Nama Wuxi sendiri kalau diterjemahkan artinya ‘tanpa timah’. Konon dulu daerah ini kaya akan timah, tapi karena sering ditambang persediaan timah akhirnya habis juga. Selang beberapa saat, kami akhirnya memasuki area kota Wuxi dan menjemput sang tour guide di tengah jalan. Setelah perkenalan singkat, kami langsung dibawa ke Three Kingdom City. Kompleks ini dulunya merupakan lokasi shooting film Three Kingdom alias Samkok versi China di tahun 1994, bukan yang versi Tony Leung dan Takeshi Kaneshiro. Kalau mereka memakai istilah ‘city’ alias kota, tidak terlalu berlebihan, karena kompleks ini sangat luas dan bisa dibilang seukuran kota kecil. Saking luasnya tempat ini, dan berhubung mayoritas peserta tour adalah kaum lansia, diputuskan untuk menyewa mobil listrik untuk mengelilingi kompleks ini.
Pintu masuk Three Kingdom City
Perhentian pertama, kami dibawa ke suatu live show barongsai. Cukup atraktif, tapi berhubung tidak beda jauh dengan yang sudah pernah saya lihat di Indonesia, kesannya menjadi tidak terlalu spesial. Setelah itu kami dibawa ke suatu kompleks yang dulu dipakai sebagai tempat tinggal Liu Bei, salah seorang tokoh legendaris Samkok. Di tempat ini pengunjung bisa menyewa pakaian tradisional yang biasa dipakai di lingkungan kerajaan, tapi sayangnya tidak dipaketkan dengan jasa foto. Jadi mereka yang menyewa baju harus foto-foto sendiri J Lingkungan di sekitar bangunan ini sangat mendukung untuk foto-foto karena ditanami dengan pohon berbunga indah. Berikutnya kami dibawa ke suatu area pertunjukkan live action yang merupakan penggalan cerita Samkok. Puluhan aktor memperagakan adegan perang ala Samkok di suatu area lapangan berlumpur. Berhubung saya tidak mengerti dan tidak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh sang narator cerita melalui speaker, hanya bisa pasrah dan mencoba menikmati saja adegan action yang ada. 

Selesai pertunjukkan kami masih sempat mengunjungi suatu area kompleks lain, dimana terdapat replika gedung pengadilan jaman dulu. Mirip dengan yang biasa dipakai untuk shooting film bertema pengadilan, Judge Bao, yang dulu sempat populer di Indonesia. Selain itu kami juga sempat melihat shooting sebuah film yang sedang berjalan di kompleks ini. Tempat makan yang ada di sini mengingatkan saya dengan tempat makan yang biasanya menjadi setting film-film silat Mandarin. Setelah melewati area ini, perjalanan mengelilingi kompleks Samkok ini pun selesai. Menurut saya sih, penggemar berat cerita Samkok akan lebih bisa menikmati kunjungan ke tempat ini. Karena bagi mereka yang tidak mengerti sejarah dan cerita Three Kingdom yang legendaris ini, kunjungan ke kompleks ini hanya seperti melihat-lihat taman dan replika bangunan-bangunan China jaman dulu.

Next, dinner time! Restoran yang kami kunjungi tidak terlalu besar dan menunya juga biasa saja. Tidak ada yang istimewa yang bisa diceritakan. Selesai dinner kamipun diantar ke hotel untuk check in dan beristirahat. Dibandingkan dengan hotel di Beijing dan Shanghai, hotel ini lebih kecil dan kalah mewah. Hotel Vienna ini merupakan jaringan hotel lokal dengan beberapa cabang di Wuxi. Berhubung belum begitu malam, saya bermaksud untuk jalan-jalan di sekitar area hotel. Tapi ternyata tidak ada tempat yang bisa dikunjungi. Apa boleh buat, terpaksa kembali ke kamar. Tapi paling tidak, ada fasilitas internet gratis yang bisa dimanfaatkan sebelum tidur. Goodnite, Wuxi.

- SW - 


Friday, May 23, 2014

China Trip - Day 5 : Beijing - Shanghai

Shanghai time! Di hari ke lima ini kami akan naik kereta cepat dari Beijing ke Shanghai, kota terbesar di China. Cukup penasaran juga seperti apa rupa kota ini jika dilihat secara langsung. Tapi sebelum sampai pun, rush hour tipikal kota-kota besar sudah dimulai duluan. Pagi itu saking buru-burunya, makan pagi tidak di hotel seperti biasa, tapi bungkus. Roti, telur, sosis dipaket ke dalam kantong plastik untuk dibawa makan di jalan. Kereta api yang akan kami naiki adalah kereta pagi pertama, yang akan menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam. Peserta tour kelihatannya sudah mulai terbiasa dengan permainan kejar-kejaran waktu. Begitu sampai di Shanghai langsung dilanjutkan tour lagi soalnya. Jadi pagi itu kami semua dari kamar langsung check out dan naik bis ke stasiun kereta Beijing. Begitu sampai, saya langsung terkesan dengan stasiun ini. Malam sebelumnya saya sempat riset sedikit tentang stasiun dan perjalanan dengan bullet train ini di internet. Banyak review positif tentang stasiun dan kereta ini. 

Setelah melihat dan merasakan langsung, saya bisa bilang kalau komentar-komentar positif yang saya baca benar-benar valid. Design arsitektur stasiun ini seperti airport saja, sangat modern. Stasiun yang sangat besar ini memang sangat sibuk, buktinya pagi itu waktu kami sampai sudah cukup ramai penumpang yang sedang menunggu. Petugas pemeriksa karcis sekaligus penjaga pintu masuk ke kereta pun penampilannya seperti pramugari, bahkan lebih modis lagi dengan aksesoris topi. Awesome place. Saya siap memberikan rating 5 bintang untuk tempat ini, sampai ketika saya harus ke WC...yah kalau di awal saya pernah singgung pengalaman menarik soal WC...di sinilah tempatnya. Waktu masuk ke WC, meskipun sudah sering dengar cerita horror dari teman tentang toilet di China, saya tetap saja sangat terkejut dengan apa yang saya lihat. Di salah satu tempat yang harusnya merupakan kamar WC jongkok tertutup, seorang pemuda yang kalau dilihat dari penampilannya..pakaian kantoran lengkap dengan jas, harusnya bisa bersikap lebih baik, sedang ‘asik’ jongkok dengan pintu terbuka sambil memainkan smart phone....

Stasiun Kereta Beijing
Kelihatannya ini sedikit banyak masih budaya lokal, soalnya saya perhatikan orang-orang yang masuk ke WC semua cuek saja dengan pemandangan itu. Yang jelas bagi saya sangat menghilangkan selera dan rating 5 bintang saya langsung jadi redup. Penampilan dan rancangan WC nya pun menurut saya kurang modern, beda jauh dengan di luar. Berhubung seisi WC dipenuhi orang juga, saya memutuskan untuk nanti saja ke WC waktu sudah masuk ke dalam kereta. Kami masih harus ngantri dan menunggu beberapa lama di gerbang masuk ke kereta. Ketika sudah melewati gerbang pun ternyata masih harus turun ke bawah dengan eskalator ke platform untuk masuk ke dalam kereta. Paling tidak penampilan kereta apinya tidak mengecewakan, modern dan bersih. Toiletnya juga begitu. Cuma berhubung kami harus meletakkan koper di depan tempat duduk, ruang untuk kaki saya yang cukup panjang berkurang drastis. Percobaan untuk tidur kurang begitu sukses (yes, cerita lama), jadi cuma bisa tidur-tiduran saja. Tapi gak terasa juga sudah lewat tengah hari, dan ternyata gerbong di depan kami merupakan tempat makan dalam kereta. Lunch time! Menunya terbatas, hanya beberapa pilihan makanan paket seperti di pesawat. Harganya juga cukup mahal, tapi worth it lah untuk nambah pengalaman. Ada beberapa eksekutif yang lunch sambil kerja dengan notebook mereka di tempat ini.

Jalur kereta yang kami naiki ternyata melewati stasiun kota Nanjing juga. Singkat cerita, tidak terlalu lama setelah melewati stasiun Nanjing, akhirnya sampai juga di stasiun kereta api Shanghai. Tidak seperti yang saya bayangkan, stasiun Shanghai tidak sebagus Beijing. Kami dijemput tour guide lokal dan langsung menuju ke area parkir untuk naik bis. Sayangnya tour guide kali ini, Ms. Xiao Wang, tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya Mandarin dan Inggris. Berhubung rombongan tour mayoritas lansia, bahasa resmi tour kali ini pun dipilih Mandarin. Ternyata stasiun kereta api ini berada di distrik Pu Xi, alias area Shanghai lama. Shanghai memang dipisahkan menjadi dua bagian oleh sungai Huang Pu. Area sebelah barat sungai namanya Pu Xi (Xi = barat), dan area sebelah timur disebut Pu Dong (Dong = timur). Pemandangan sepanjang jalan menuju ke restoran untuk makan siang/sore tidak se ‘wah’ yang saya bayangkan. Bahkan di beberapa tempat, masih terlihat agak kumuh. Di dalam bis, Ms. Xiao Wang sempat menceritakan hal menarik tentang trend perkawinan yang sedang terjadi di Shanghai. Layaknya kota-kota metropolitan lain di dunia, tingginya biaya hidup di Shanghai menyebabkan para pasangan mengadopsi gaya perkawinan ‘luo hun’. Artinya para pasangan ini menikah tanpa mengharapkan apa-apa dari segi materi dari pasangan mereka. Tidak perlu harus beli rumah, mobil dan sebagainya. Yang penting mereka bisa hidup bersama. Romantic, pathetic, or realistic? Yang jelas menurut Ms. Xiao Wang harga property di Shanghai luar biasa mahal, saking mahalnya, jangankan beli, untuk sewa apartment saja kalau tidak ramai-ramai patungan akan sulit. Menurut dia rata-rata gaji karyawan biasa di Shanghai berkisar 2000-3000 Yuan. Sewa apartment bisa mencapai 3000 Yuan, jadi kalau hanya tinggal sendiri, artinya gaji hanya cukup untuk membayar sewa apartment saja. Kalau dibagi berlima, setiap orang harus membayar 600 Yuan. Belum lagi biaya untuk makan, transport, hiburan, shopping dan lain-lain. Benar-benar kasus klasik bright light big cities.

Stasiun Kereta Shanghai
Restoran tempat kami makan siang tidak begitu istimewa, dan menunya juga biasa saja. Area sekitar restoran juga biasa saja. Pokoknya serba biasa deh. Jauh dari bayangan Shanghai sebagai kota paling besar dan paling modern di China. Dari restoran kami menuju ke kompleks shopping Cheng Huang Miao. Tempat ini dipenuhi turis yang ingin berbelanja, baik lokal maupun dari mancanegara. Penampilan kompleks ini cukup menarik, tapi berhubung saya bukan shopaholic, rasa antusiasmenya tidak terlalu tinggi. Ternyata di dalam kompleks ini ada jalan masuk ke suatu taman yang bernama Yu Garden (Yu Yuan). Taman ini adalah buatan salah seorang pejabat pemerintah di jaman dinasti Ming yang bernama Pan Yunduan, didedikasikan untuk orang tuanya. Ternyata selama usianya yang sudah mencapai 400 tahun, taman seluas dua hektar ini sudah beberapa kali mengalami perombakan. Yang terakhir di tahun 1956, memakan waktu selama lima tahun. Mulai 1961, taman ini dibuka untuk umum. Kalau punya taman seperti ini di rumah pastinya cukup spesial, dengan arsitektur bangunan yang khas, beranda yang dibuat khusus untuk menikmati pemandangan formasi bebatuan di dalam taman dan aliran air sungai buatan, pohon-pohon tinggi dalam taman yang layaknya hutan mini,  kolam ikan dan sebagainya. Hal spesial lain adalah ada pohon Ginkgo biloba yang sudah berusia 400 tahun!


Keluar dari taman, kami diberi kesempatan untuk jalan-jalan dan belanja di kompleks Cheng Huang  Miao ini. Selama di sini saya jalan-jalan keliling kompleks, window shopping dan foto-foto. Sempat berpapasan dengan rombongan asal Indonesia yang cukup heboh, ada yang dengan bangga cerita ke temannya kalau dia sukses nawar. Tempat ini memang terkenal dengan harga miringnya, miring ke atas..bukan miring ke bawah. Jadi kalau mau beli sesuatu harus pintar-pintar nawar. Meskipun tidak belanja, saya jadi “korban” juga (shame on me…). Waktu sedang menyusuri salah satu lorong, saya melihat ada warung minuman yang menjual air kelapa. Rasa penasaran bercampur haus membuat saya memutuskan untuk mencobanya. Masalahnya, saya melakukan kesalahan pemula, tidak menanyakan harga sebelum beli. BIG mistake. Toh makanan/minuman di China pasti relatif murah, right? Wrong!! Ternyata buah kelapa yang disajikan ke saya harganya 25 Yuan atau sekitar Rp 37.500! Bukan itu saja, buah yang disajikan pun agak coklat kehitam-hitaman dan tidak sesegar yang dipajang. Rasanya juga tidak enak. Talking about being the victim of a scam! Ingat lain kali kalau Anda ke sini, jauhi air kelapa! Tidak peduli seberapa hausnya Anda! Lebih baik beli air mineral atau kalau penggemar Starbucks, bisa beli minuman di outlet cafĂ© tersebut yang ada dalam kompleks ini, yang meskipun tidak murah tapi rasanya sudah standard. Oh ya, tour guide juga sudah wanti-wanti dari awal tentang rawannya pencurian dan copet di tempat ini, jadi mesti ekstra hati-hati dengan dompet dan tas bawaan kita.
Cheng Huang Miao
Keluar dari Cheng Huang Miao, hari sudah sore menjelang malam. Kami dibawa ke sebuah restoran yang cukup besar untuk makan malam. Rencananya, setelah makan malam kami akan ke gedung ERA untuk menyaksikan acrobatic show yang katanya bagus. Restoran ini dilengkapi dengan panggung untuk show tari-tarian, nyanyian dan permainan alat musik yang menghibur para tamu selama makan di sini. Sound dan lighting system nya juga cukup profesional, memang sudah dirancang khusus untuk layanan entertainment. Menunya? Setelah beberapa hari di China, meskipun beda daerah, menu yang disajikan tidak begitu jauh beda. Setelah dinner ini kami langsung menuju ke gedung pertunjukkan ERA karena ingin mengejar show jam 7 malam. Show yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini memang dikemas cukup menarik. Ada akrobatik melompat melewati semacam menara lingkaran di tengah panggung yang ditumpuk semakin tinggi. Ada juga peragaan elastisitas badan dan otot yang sepertinya bisa ditekuk ke mana-mana, ada pertunjukan drama tarian dan musikal yang romantis dan ditutup dengan aksi lima motor yang saling berputar di dalam sangkar besi berbentuk seperti bola. Secara keseluruhan acrobatic show ini memang cukup bagus. 

Dinner @ Shanghai resto

Salah satu sudut gedung ERA
Ketika pertunjukkan selesai dan kami keluar dari gedung, ternyata sedang hujan. Terpaksa sedikit berbasah-basah untuk masuk kembali ke bis menuju hotel untuk bermalam. Hotel yang dipakai kali ini adalah Holiday Inn Express. Hotel dengan penampilan simple dan minimalis tapi elegan ini adalah tipe hotel yang saya sukai. Waktu masuk ke kamar pun saya benar-benar puas dengan tempat tidur, tata letak meja dan juga toiletnya. Seandainya saja semua hotel yang akan kami tinggali selama tour  di China bisa seperti ini. Hotel Peixin di Beijing tidak jelek, tapi masih tipe hotel bergaya lama. Tapi saya tidak bisa terlalu lama menikmati design dan kenyamanan kamar, karena harus segera istirahat dan besok pagi mengikuti jadwal tour yang cukup padat, mengunjungi TV Tower Shanghai sebelum dilanjutkan dengan perjalanan ke kota berikutnya, Wuxi.

- SW -  

Saturday, May 17, 2014

China Trip - Day 4: Beijing Part Two

Another day in Beijing. Hari ini bakal menarik sekaligus menantang karena kami akan mencoba untuk menaklukkan Tembok Besar China! Tapi itu bukan di jadwal pertama tour. Jadwal pertama hari ini adalah mengunjungi Temple of Heaven, yang letaknya tidak jauh dari Hotel Peixin. Seperti biasa pagi itu kami breakfast di hotel dulu sebelum berangkat tour. Karena jaraknya yang cukup dekat, perjalanan naik bis ini hanya sebentar. Kuil ini merupakan tempat Kaisar di jaman Dinasty Ming dan Qing berkunjung untuk berdoa memohon berkat untuk panen setiap tahun. Bagian depan kuil ini merupakan area taman yang cukup luas. Pagi itu udara cukup sejuk dan segar, di tempat ini sudah ramai dengan para manula yang berolahraga. Menurut Ms. Eka, para manula ini rutin berolahraga dan berkumpul di sini. Di sepanjang jalan menuju kuil ini memang cukup banyak pemandangan menarik. Ada beberapa orang yang sedang berlatih Tai Chi. Di suatu bagian taman, puluhan orang berkumpul untuk menarikan tarian Tibet dengan iringan musik tradisionalnya. Setelah melewati bagian ini, kami memasuki lorong yang merupakan jalan menuju ke area kuil. Di sepanjang lorong ini para manula asyik bermain kartu, catur China dan berbagai permainan yang lain. Mereka kelihatan benar-benar menikmati suasana. Jelas sekali tempat ini merupakan surga bagi para pensiunan ini. Yang lucu, ada papan peringatan yang bertuliskan larangan untuk merokok, tapi saya sempat melihat beberapa orang kakek yang asyik merokok layaknya perokok kelas berat hehe...



Dari lorong ini kami memasuki satu gerbang lagi untuk masuk ke area kuil. Area kuil ini juga cukup luas dan terdiri dari beberapa bangunan antara lain ‘The Hall of Prayer for Good Harvest’, yakni bangunan bundar dengan tiga tingkatan atap yang melambangkan langit, manusia dan bumi. Bangunan ini merupakan icon yang fotonya banyak dipakai di media promosi pariwisata China. Bangunan lain, ‘The Imperial Vault of Heaven’, bentuknya menyerupai yang pertama tapi hanya satu tingkat dan ukurannya lebih kecil, letaknya di selatan ‘Hall of Prayer’. Dan yang ketiga, ‘Circular Mount Altar’. Tapi kunjungan kami kali ini hanya melihat-lihat di bangunan yang pertama saja. Setelah puas foto-foto, yang dilengkapi dengan foto rombongan, kamipun berjalan kembali ke pintu keluar kuil untuk berangkat ke tujuan tour berikutnya.
Temple of Heaven
Dari Temple of Heaven, kami dibawa ke tempat yang mungkin cukup pas kalau dibilang pabrik batu jade. Meskipun penampilannya seperti toko perhiasan super luas, di tempat ini juga dilakukan pekerjaan teknis seperti pemahatan dan pengukiran batu jade. Kita bisa melihat langsung bagaimana batu jade dipahat dan dibentuk oleh seorang pekerja. Ada juga meja khusus untuk mengukir batu jade yang telah kita beli, tanpa dikenakan biaya alias gratis. Meskipun mayoritas menjual hiasan yang terbuat dari batu jade, ada merchandise lain juga yang dijual seperti kain tenun, vas bunga, lukisan dan lain-lain. Yang istimewa dari tempat ini adalah harga barang-barangnya. Ada satu patung beruang salju yang ukurannya cukup mini, tapi harganya jauh dari mini: 7800 Yuan atau sekitar Rp 11.700.000! (Yuan/Ren Min Bi (RMB) = mata uang RRC, kurs waktu itu 1 Yuan = Rp 1500). Dan ada bola kristal yang di dalamnya terdapat bola yang mungkin terbuat dari batu jade, berlukiskan gambar tradisional khas China, harganya 12.000 Yuan! Masih ada barang-barang lain yang jauh lebih mahal. Ada satu pajangan yang ukurannya cukup besar berbentuk sayur kol yang harganya berkali-kali lipat dari ini. Saya sampai bertanya dalam hati, emang ada yang beli? Tapi rasanya kemungkinan kecil mereka akan membuat sedemikian banyak  pajangan dari batu jade jika tidak ada pasarnya. 
Dan kalau Anda berpikir itu adalah puncaknya, think again mate. Puncak kunjungan ke istana jade ini adalah ketika kami sedang berjalan menuju pintu keluar, saya melihat sebuah kotak kaca ukuran cukup besar yang berfungsi sebagai kotak sumbangan. Saya lupa untuk sumbangan apa, tapi kotak tersebut sudah cukup penuh berisi uang kertas Yuan. Ketika sedang iseng memperhatikan kotak tersebut, saya terkesima dengan suatu pemandangan yang yang tidak lumrah. Di antara sesaknya uang kertas Yuan yang memenuhi kotak tersebut, terselip satu lembar uang kertas yang cukup familiar...yang bergambar foto diri Kapitan Pattimura! Ladies and gentlemen: jauh-jauh ke China, ada dermawan yang nyumbang Rp. 1000! (Baca: SERIBU RUPIAH) Luar biasa....
The super exclusive 'Rupiah' among Yuan
Keluar dari tempat ini kami menuju ke restoran untuk makan siang. Restoran ini terletak di lantai dua dari sebuah gedung yang lantai satunya merupakan tempat penjualan macam-macam barang pajangan/hiasan yang sangat luas. Setelah makan siang, akhirnya kami menuju ke tempat yang sudah ditunggu-tunggu, Great Wall alias Tembok Besar China. Ketika akhirnya sampai di tempat yang letaknya cukup jauh dari pusat kota ini, hari sudah siang menjelang sore. Agenda pertama setelah sampai di sini, foto group. Setelah itu, bagi yang mampu atau merasa mampu, dipersilahkan untuk mendaki tembok termahsyur ini. Menurut tokoh legendaris Mao Ze Dong, siapa yang belum mendaki tembok China tidak bisa menyebut dirinya pahlawan. Atribut pahlawan sih tidak terlalu saya pusingkan, tapi berhubung sudah sampai di sini, rasanya tidak sah kalau saya tidak mencoba untuk mendaki. Jadi saya putuskan untuk naik ke atas juga, meskipun kondisi fisik saya waktu itu kurang begitu fit. Baru menaiki puluhan anak tangga, yang ukurannya tidak sama besar dan ada yang sudah terkikis, kaki saya sudah mulai terasa pegal, tapi saya putuskan untuk lanjut terus sampai mencapai area yang cukup luas untuk beristirahat sejenak. 

Dalam proses mendaki ini, saya dilewati oleh seorang anak kecil asal Indonesia yang paling banter berusia 6 tahun. Super junior ini masih sempat-sempatnya teriak-teriak ke Mamanya yang masih tertinggal di bawah: “Mama...ayo kita lomba siapa dulu yang sampai ke atas. Adek lebih cepat dari Mama, padahal Adek bawa iPhone lho!” (sambil nepuk-nepuk kocek celananya)....Dalam hati saya: “Snob…” Gak lama kemudian sang Mama nyusul sambil ngos-ngosan. Ok, dilewati anak kecil arogan sama ibu-ibu...no problem...biar lambat asal selamat sampai ke atas. Ketika akhirnya sampai di atas, rasanya sangat susah bagi saya menahan diri untuk tidak menyanyikan lagu Hallelujah nya Handel. Cuma sayang tidak ada iringan musik megah dan saya tidak hafal liriknya. So saya ganti saja dengan ucapan dalam hati: “Hallelujah!”. Benar-benar lega dan puas. Sambil mencoba untuk mengatur nafas kembali ke normal, saya maksimalkan untuk menikmati pemandangan dari atas. Berhubung waktu itu berkabut, pemandangan yang bisa dilihat tidak bisa dibilang indah. Pegunungan di sekitar tembok hanya terlihat samar-samar, pemandangan di bawah juga biasa saja, bangunan dan rumah di kaki gunung yang kurang berwarna. 
The Great Wall
Ternyata di atas sini ada pintu untuk masuk ke suatu ruang. Mungkin tempat ini dulunya dipakai para prajurit untuk beristirahat. Penasaran apa yang ada di dalam, saya putuskan untuk memasuki ruang itu. Di dalam tidak ada yang istimewa, gelap dan hanya ada beberapa jendela untuk melihat keluar. Dan ternyata, di ujung ruang ini ada pintu keluarnya. Ternyata lagi, setelah melewati pintu keluar ini, masih ada jalan dan ratusan anak tangga menuju puncak berikutnya! Ternyata saya baru mencapai salah satu puncak, masih ada puncak di atas puncak!!  Setelah termenung bercampur kecewa, sempat terlintas dalam pikiran saya selama beberapa detik, tidak lama, hanya beberapa detik: “Naik lagi gak ya?” Tapi segera niat itu saya buang jauh-jauh menimbang kondisi kaki dan badan yang sudah tidak bisa diajak kerja sama. Yah, paling tidak saya mencapai salah satu puncak. Dari rombongan tour kami tidak ada satupun yang naik sejauh ini, maklum..rata-rata sudah lansia. Belum selesai saya menghibur diri, tiba-tiba rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu dari tour kami sudah menyusul ke atas. Salah satu dari bapak-bapak ini adalah seorang kakek berusia 82 tahun! Rasa bangga pun pudar...dan kemudian hilang sama sekali ditelan bumi...ketika dari puncak berikutnya di atas, seorang wanita bule turun sambil menggendong bayi perempuannya....
My pride...completely gone...
Daripada meratap, saya putuskan untuk menikmati suasana di puncak sambil menghirup udara pegunungan yang segar...ehm...dingin...ternyata sebelum mencapai anak tangga untuk naik ke puncak berikutnya..ada turunan menuju ke sebuah gift shop. Saya putuskan untuk turun ke sana melihat-lihat. Gift shop ini ukurannya tidak terlalu besar, tapi ada beberapa meja dan bangku untuk beristirahat. Di sini kita bisa membeli medali “emas” yang bisa diukir nama kita untuk kenang-kenangan mencapai puncak. Ada juga model penghargaan lain berupa plat nama warna emas. Selain itu juga dijual aneka macam merchandise bertema Tembok Besar. Saya putuskan untuk beli t-shirt seharga 40 Yuan, atau sekitar Rp 60 ribu. Not exactly cheap, but it’s ok lah, udah naik sejauh ini. Iseng-iseng untuk konfirmasi saja, saya bertanya ke salah satu penjaga toko: “Kalian setiap pagi naik ke sini untuk jaga toko?”. Dia menjawab dengan enteng: “Iya.”. Saya cuma bisa nelan ludah.. (sekedar info, semua penjaga tokonya wanita)

Dari sini dimulailah perjalanan untuk menuruni tembok. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ukuran anak tangga yang besar kecil bercampur rusak bisa sangat membahayakan jika kita tidak hati-hati. Jadi pelan-pelan saya menuruni tembok sampai mencapai satu area penghubung antar anak tangga yang cukup luas untuk beristirahat atau foto-foto. Saya putuskan untuk break beberapa menit di sini sebelum turun lagi. Saya perhatikan di dinding tembok ternyata banyak “karya seni”, coretan-coretan pen, spidol dan sejenisnya sebagai tanda yang bersangkutan pernah singgah ke Tembok Besar. Kebetulan di dekat tempat saya berdiri ada yang ditulis dengan huruf Korea disertai tanggal 2011.10.15 – 15 Oktober 2011. Korean vandals! Dasar perusak! Kemudian..persis di bawahnya...dengan huruf yang lebih besar..tertulis: 28-05-2011 SUKABUMI...Saya langsung speechless....Sudahlah..daripada mikirin para vandal ini..nobody cares anyway...lebih baik saya manfaatin waktu dan tenaga untuk foto-foto saja. Setelah puas foto-foto, saya pun berjalan turun untuk bergabung kembali dengan rombongan tour. 
'Prasasti' turis Indonesia di Great Wall
Waktu sudah semakin sore dan berikutnya makan malam terakhir kami di kota Beijing adalah menunya yang sudah termahsyur: Beijing Kao Ya alias Bebek Panggang Beijing. Saya bukan penggemar berat daging bebek, tapi tetap harus mencoba yang satu ini. Di Indonesia juga ada, tapi beda lah kalau makan di tempat asalnya. Tapi sebelum dinner kami dibawa dulu ke Jalan Wangfujing - Pasar Malam Donghuamen. Ketika sampai di tempat ini hari sudah malam. Di area ini terdapat deretan pertokoan, dan di seberang jalan terdapat sederetan panjang stand yang menjual segala jenis makanan. Saya sempat mencoba ikan bakarnya, yang sayangnya..terlalu asin. Suasana di sini cukup menarik, pengunjung ramai dan lampu warna-warni menghiasi sepanjang jalan. Dari sini kami dibawa ke ‘The Great Wall Restaurant’ untuk makan malam. Mungkin karena malam terakhir, kami diberi ruang khusus dan menu yang disajikan juga lebih spesial, selain bebek panggang. Pokoknya makan malam yang cukup memuaskan. Tapi berhubung saya bukan master chef ataupun pakar kuliner, saya gak bisa komentar banyak soal rasa bebek panggang resep original Beijing. Yang jelas daging yang diiris tipis ini memang rasanya sangat kaya, atau istilah Inggrisnya ‘rich flavour’. Setelah kenyang makan malam, kami pun pulang kembali ke hotel untuk beristirahat. Besok pagi-pagi sudah harus bangun karena akan berangkat ke Shanghai dengan bullet train (kereta cepat) yang pertama. Tidak terasa, selesai sudah perjalanan di Beijing. Cukup banyak kenangan selama di kota ini, meskipun singgah tidak lama. I will miss this city indeed. Good night Beijing, and goodbye. Sampai ketemu lagi di perjalanan berikutnya. I’m sure we’ll see each other again!
Wangfujing Street
- SW -

Friday, May 2, 2014

China Trip - Day 3 : Beijing

Good morning, China! Kayaknya ungkapan ini cocok untuk jadi judul cerita, buku atau bahkan film! (jadi ingat Good Morning Vietnam nya Robin Williams). Sorry kalau agak maksa, maklum..over antusias. Bangun pagi dengan penuh semangat karena akan melihat wajah Beijing di pagi hari untuk pertama kalinya. Hari ini bisa melihat secara langsung salah satu kota yang paling terkenal di dunia, di negara dengan salah satu kebudayaan tertua dalam sejarah manusia. Jumlah penduduk negara ini 1.3 milliar, 5 kali jumlah penduduk Indonesia! Kalau di pulau Jawa yang sudah overload jumlah penduduknya, masalah kepadatan ini sangat terasa. Saya dulu pernah tinggal cukup lama di Jakarta, yang saya rasakan waktu itu seakan-akan tidak cukup banyak ruang dan tempat untuk semua orang. Terakhir waktu singgah di kota ini, lautan motor di jalan area Grogol benar-benar membuat mual. Tapi kenyataannya daya tarik kota ini masih sangat besar karena statusnya sebagai ibu kota, yang pastinya lebih maju dari kota-kota lain di Indonesia dalam segi ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan lain-lain. Belum lama ini saya juga sempat ke Bali, dengan masalah klasik yang sama. Saya waktu itu sempat membayangkan, bagaimana seandainya Bali punya infrastruktur dan ditata seperti misalnya Singapura? Akankah wisatawan yang datang naik berkali-kali lipat dan begitu juga ekonominya? Atau justru daya tarik pulau ini adalah apa adanya yang dianggap eksotis oleh para wisman? Ahem..sebelum nyasar terlalu jauh, back to Beijing. Apakah wajah kota ini bakal sama dengan Jakarta? I hope not. Malam sebelumnya sih tidak terasa demikian. So we’ll see about that.
Hotel Peixin - Dining Room
Ruang makan di Hotel Peixin cukup besar dan bagus. Menu buffet yang disajikan pun cukup variatif. Ada menu ala Chinese dengan masakan panas ‘re chai’ (disajikan panas seperti umumnya menu di restoran Indonesia) dan juga masakan dingin nya yang disebut ‘liang chai’. Masakan dingin ini merupakan menu sayuran dan sejenisnya yang memang disajikan dan disantap dingin. Ada juga menu breakfast ala negara barat seperti roti panggang et al, sosis dan telur. Setelah makan kenyang, kami semua menunggu di lobby dan langsung berangkat begitu bis datang. Pagi ini sangat cerah dan benar-benar sempurna untuk jalan-jalan. Memang agak sedikit berangin yang membuat udara jadi terasa agak dingin. Tapi kami semua sudah siap dengan memakai sweater, jaket, syal, topi, sarung tangan dan sejenisnya. Begitu sampai di area Tiananmen Square, angin musim semi yang sejuk semakin terasa di lapangan yang terbentang luas ini. Dan seperti yang sudah diwanti-wanti tour guide, banyak pedagang asongan yang menjual pernak-pernik yang berhubungan dengan kota Beijing. Kami diperingati untuk tidak memegang atau melihat-lihat seandainya tidak berminat untuk membeli. Karena mereka akan terus membuntuti seandainya kita menunjukkan sedikit saja rasa tertarik. Pengunjung yang datang sudah ramai, dan antrian untuk melihat makam almarhum Mao Ze Dong sudah luar biasa panjang. Kami tidak ikut mengantri karena waktu yang terbatas. Menurut Ms. Eka, diperlukan waktu berjam-jam untuk mengantri hanya untuk melihat sebentar makam salah satu tokoh China yang paling legendaris ini. Katanya lagi, keramaian seperti ini masih bukan puncaknya. Gak kebayang deh bagaimana ramainya di peak season. Lapangan ini menjadi semakin terkenal karena insiden berdarah karena pergolakan politik yang pernah terjadi di tahun 1989.
Tiananmen Square
Cukup banyak mahasiswa dan juga warga sipil yang menjadi korban. Tapi kalau melihat kondisi di lapangan hari ini, kejadian kelam masa lalu itu jelas tertutup oleh daya tarik tempat ini sebagai objek wisata wajib di Beijing! Yang paling populer menjadi objek foto adalah yang berlatar gedung berarsitektur China kuno dengan lukisan wajah Mao Ze Dong di dinding depannya. Bangunan ini merupakan jalan masuk ke area Kota Terlarang. Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan sekitar lapangan ini, kamipun melanjutkan tour ke Kota Terlarang di seberang jalan melalui terowongan bawah tanah. Begitu mulai memasuki area Kota Terlarang, langsung terasa kesannya yang sangat massive. Bayangkan saja, kompleks yang merupakan bekas kompleks istana di era Dinasty Ming dan Qing ini terdiri dari 980 bangunan dengan luas 720.000 m2! Kompleks yang sudah berusia lebih dari 600 tahun ini terawat baik. Kalau melihat lautan massa pengunjung seperti juga di Tiananmen Square, saya angkat topi untuk pemerintah China yang benar-benar menggarap segi parawisata dengan sangat profesional. Tidak bermaksud untuk terus membanding-bandingkan, tapi dalam hati saya berharap pemerintah Indonesia juga bisa seperti itu. Karena sudah sangat jelas bidang ini punya potensi yang sangat besar.
Gerbang Forbidden City
Satu demi satu bangunan kami lewati, dan setiap bangunan ini punya sejarah dan cerita sendiri-sendiri. Ada yang merupakan gedung yang dulunya merupakan tempat dilakukannya ujian untuk seleksi pegawai kerajaan. Ada juga yang merupakan tempat Kaisar mengganti baju kebesarannya. Keren gak tuh, untuk ganti baju saja ada gedung khusus! Dan tentu saja, yang paling ingin dilihat orang adalah gedung tempat tahta Kaisar. Sayangnya, demi alasan keamanan, tahta Kaisar ini tidak bisa dilihat dari dekat, hanya dari pembatas yang dipasang di pintu masuk. Berapapun kalori yang terbakar dalam usaha saya memelekkan mata kelihatannya sia-sia. Yang terlihat hanya tahta tempat duduk Kaisar yang samar-samar (in case you’re wondering, no, di dalam tidak dipasang lampu hias mewah atau sejenisnya hehe). Untuk bisa sampai ke posisi depan pintu dan sekedar melongok ke dalam pun diperlukan tekad baja dan perjuangan hidup mati (ok, mungkin saya sedikit berlebihan). Sayangnya khusus untuk masalah yang satu ini, kurang terkelola dengan baik. Tidak ada jalur antrian untuk melihat sehingga pengunjung berdesak-desakan (baca: dorong-dorongan) dari seluruh penjuru mata angin untuk melihat sesuatu yang tidak terlihat. Ada seorang wisman bule yang begitu sukses sampai di posisi depan pintu, menjepret tempat duduk keramat tersebut dengan DSLR nya, terus sambil pergi ngomong ke temannya: “I didn’t really see anything..”
Tahta Kaisar
Dari situ kami sempat toilet break sebentar, dan toilet di China memang tidak terkenal bersih, seperti yang sudah banyak diceritakan orang-orang yang pernah berkunjung ke negara ini. Toilet di dalam kompleks ini memang tidak kotor sekali, tapi menurut saya kurang luas dan bersih. Terlalu sempit dan kecil untuk tempat seukuran tempat ini. Belum lagi wewangian aroma terapi yang menyebar. Tapi ini belum seberapa, ada pengalaman ke toilet yang lebih parah di tempat lain (I’ll tell you about it later). Untungnya setelah itu paru-paru kami kembali dibersihkan dengan jalan-jalan di taman yang ada di dalam kompleks ini, tempat Kaisar dulunya jalan-jalan sore. Di taman ini ada satu pohon yang sudah sangat terkenal, yang sudah pernah saya dengar ceritanya sebelum ke sini. Anda juga mungkin sudah pernah dengar. Pohon ini memang unik, terdiri dari dua pohon yang cabangnya saling melilit, dan diberi julukan pohon suami-istri. Banyak pasutri yang mengabadikannya dan berfoto dengan latar pohon ini. Pemandangan aneh lain adalah ada satu gedung yang seakan-akan ditumbuhi oleh terumbu karang yang menjalar di dinding. Ada cerita yang melatarinya, cuma sayangnya saya tidak ingat persis. Yang saya ingat, terumbu karang ini dibawa dari luar dan dipasang di dinding gedung hanya untuk hiburan Kaisar. Tidak terlalu lama setelah keluar dari area taman, tanpa terasa, sampai juga kami di penghujung kompleks. 
Couple Tree
Dari pintu keluar, kami berjalan kaki menuju ke suatu perempatan untuk menunggu bis yang akan datang menjemput kami. Pemandangan sepanjang jalan cukup indah dan asri. Informasi tentang udara Beijing yang tercemar parah oleh polusi anehnya tidak saya rasakan. Katanya sih ketika menjelang Olimpiade 2008 dimana Beijing menjadi tuan rumah, pemerintah sangat ketat soal kualitas udara. Tapi informasi terakhir yang saya dapat, kualitas udara kota kembali menurun semenjak berakhirnya event internasional itu. Jadi saya tidak tahu apakah waktu itu emosi saya yang bicara atau logika, tapi yang jelas saya memang tidak merasakan udara yang sumpek dan menyesakkan hidung dan paru-paru. Setelah bis datang, kami langsung meluncur ke restoran untuk makan siang. Restoran yang kami kunjungi ternyata cukup besar dan bagus. Payung warna-warni dipasang menggantung terbalik di langit-langit. Ada juga lampion dan lukisan-lukisan wajah khas opera China di dinding. Masakannya juga cukup enak. Di salah satu pojok restoran ada sebuah stand yang menjual bermacam-macam barang buatan lokal, pernak-pernik perhiasan, boneka, mainan dan sebagainya. Harga barang yang tidak terlalu mahal sempat membuat ibu-ibu peserta tour tertahan cukup lama di sini karena memborong boneka dan sejenisnya untuk kenang-kenangan. Di dekat pintu keluar masuk, dipajang sejumlah gelas kaca yang berisi cairan dengan ular yang diawetkan! Mungkin ramuan obat, saya tidak tahu pasti. Kalau Anda termasuk yang tidak terlalu nge-fans dengan binatang yang satu ini, tidak disarankan untuk mempelototi pajangan ini terlalu lama. Bisa-bisa selera makannya hilang...
Setelah lunch kami dibawa ke suatu tempat untuk pijat kaki gratis! Betul, Anda tidak salah baca. Katanya sih tempat pijat kaki ini merupakan tempat yang biasa dipakai untuk melayani tamu-tamu agung dari negara lain. Sebagai bukti, foto-foto negarawan yang pernah berkunjung dipasang di dinding di sepanjang lorong di lantai dua. Saya melihat foto Ibu Megawati, Mahatir Muhammad, dan juga Ferdinand Marcos (ex Presiden Filipina). Kami dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar yang berisikan deretan kursi-kursi empuk. Setelah itu dibawakan air panas di dalam wadah yang sudah diberi sejenis obat untuk merendam kaki. Sambil menunggu petugas pijatnya datang, kami diberi pengarahan dan sekilas info oleh seorang Bapak yang ternyata orang Indonesia yang telah lama pindah permanen ke China. Dijelaskan tentang segala macam obat dan layanan pemeriksaan kesehatan yang mereka tawarkan. Ternyata ‘tukang pijat’ nya adalah para remaja yang sedang training di tempat ini. Sesuai tebakan saya, sambil dipijat, mereka mulai menawarkan obat-obatan dan layanan dokter untuk memeriksa kesehatan. Tapi tenang saja, tidak ada paksaan. Kalau tidak tertarik, Anda tidak perlu beli apa-apa dan hanya mendapatkan compliment berupa pijat gratis. Setelah menjelajahi Tiananmen Square dan Kota Terlarang yang sangat luas, apalagi sih yang lebih hebat dari pijat kaki gratis? Ketika menuju pintu keluar di bawah setelah selesai pijat, saya melihat tulisan menarik yang dipajang di atas meja stand yang menjual aksesoris gelang, sejenis batu untuk kesehatan dan lain-lain. Tertulis dalam tiga bahasa: Mandarin, Bahasa Indonesia/Melayu, dan Inggris. Dalam bahasa Mandarin dan Inggris, kalau diartikan tulisannya ‘beli lima gratis dua’. Tapi yang istimewa, dalam Bahasa Indonesia/Melayu tertulis dengan huruf ukuran paling besar di tengah-tengah: “batu bian gue, beli lima geratis (free) satu”. Dalam hati saya berpikir, ini perlakuan diskriminatif untuk kita, salah tulis, atau mereka pikir kita idiot?? Kita anggap yang kedua saja deh (ingat, positive thinking, my friend).

Dari sini, tujuan berikutnya: Olympic Park! Akhirnya bakal melihat secara langsung ‘Sarang Burung’ yang terkenal itu. Sayangnya tidak ada agenda untuk masuk ke dalam, jadi kami hanya akan melihat-lihat dan foto-foto di luar stadion utama, gedung perlombaan renang dan lain-lain. Di area lapangan menuju stadion juga ada pemandangan yang cukup spesial, di bawah ternyata bisa melihat jalan tol dengan lalu lintas yang ramai. Mobil-mobil dari segala macam merk dan jenis mengalir seperti air yang tidak ada hentinya. Menurut Ms. Eka, jika dulu Beijing terkenal dengan sepedanya, yang saking banyaknya diklaim bahwa setiap penduduk Beijing punya satu sepeda, sekarang ini jumlah sepeda sudah kalah banyak dibanding jumlah mobil! Mobil Audi yang termasuk kelas menengah atas di Indonesia tidak dianggap spesial di Beijing. Kalau mau dianggap kaya, kamu harus punya mobil Rolls Royce! Ckckck...saya jadi teringat dulu pernah baca artikel di majalah Fortune yang membahas kemajuan ekonomi China. Dalam suatu event pameran mobil internasional, di stand BMW yang ketika itu meluncurkan seri limited edition, pada waktu serah terima kunci yang diliput oleh pers, ternyata pembelinya adalah seorang anak muda yang datang hanya pakai kaus dan celana pendek...Di dekat area jalan tol ini terdapat sebuah gedung pencakar langit yang puncaknya berbentuk seperti kepala naga. Ternyata di dalam bangunan ini terdapat Hotel 7 Bintang Pangu (alias Gold Dragon atau naga emas) yang merupakan bagian dari Pangu Plaza, kompleks perkantoran, apartment, mall dan restoran mewah. Gedung eksotis ini merupakan hasil rancangan arsitek terkenal asal Taiwan C.Y. Lee yang juga merancang gedung tertinggi nomor dua di dunia, Taipei 101 di Taiwan.
Hotel Pangu dilihat dari Olympic Park
Berhubung cuma diberi waktu setengah jam, saya buru-buru berjalan ke arah stadion ‘Bird’s Nest’ untuk melihat lebih dekat. Arsitektur stadion ini memang sangat indah dan sebuah masterpiece. Setelah itu saya juga menyempatkan diri untuk melihat Water Cube Aquatic Center, gedung persegi empat yang dindingnya seperti gelembung-gelembung air, tempat perlombaan cabang renang. Habis foto-foto kilat, saya bergegas balik ke tempat kumpul kembali yang telah disepakati. Benar-benar hanya sekilas info.

Berikutnya, kami akan menuju ke Summer Palace, istana musim panas tempat Kaisar dulu beristirahat. Waktu sudah sore ketika kami sampai ke tempat ini, dan berhubung saya suka danau, saya langsung menyukai tempat ini. Meskipun danau yang ada di kompleks ini merupakan danau buatan, menurut saya tempat ini di-design dengan cukup indah. Tempat peristirahatan yang ideal deh pokoknya. Tapi seperti kata pepatah: “Beauty is in the eye of the beholder”. Indah atau cantik itu tergantung mata orang yang melihatnya, jadi sangat relatif. Ketika sedang berjalan-jalan di kompleks ini, saya bertemu rombongan turis asal Indonesia. Dari seragam yang mereka pakai, ternyata rombongan ini adalah rombongan perusahaan. Mungkin sebagai bonus pencapaian target atau sejenisnya. Nah, salah seorang dari mereka ini bilang ke temannya: “Kayak begini indah??”. Berhubung saya bukan Kaisar atau keturunannya, saya tidak pantas tersinggung, cuma sedikit tergelitik saja. Memang tidak semua orang bisa menghargai atau mengapresiasi keindahan alam, seni arsitektur dan lain-lain. Dan bagi yang bisa pun, bisa melihat berbeda. Jadi celaan saudara kita itu pantas dimaklumi. Tiap orang berhak berpendapat. Tapi bagi saya pribadi sih, he’s totally nuts! (Excuse my French…)
Sunset @ Summer Palace
Tanpa terasa, waktu sudah menjelang malam dan matahari menjelang terbenam. Ternyata banyak fotografer yang sudah standby di dekat area jembatan yang melintasi danau untuk mengabadikan sunset. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Saya juga tidak mau ketinggalan mengabadikannya dengan pocket digital camera saya. Jangan bandingkan hasilnya dengan mereka yang rata-rata memakai DSLR kelas berat lengkap dengan tripod. Tapi untuk ukuran mata normal sih, menurut saya foto yang saya ambil tidak jelek, meski cuma kualitas VGA. Saya juga tidak mau terlalu banyak dan lama mengambil foto karena ingin menikmati sunset secara LIVE. Akhirnya matahari pun terbenam di balik bukit dan itu artinya kami harus naik kembali ke bis menuju restoran untuk makan malam. Berbeda dengan makan siang, restoran untuk makan malam ini tidak begitu menonjol gedungnya. Dari pintu masuk yang relatif kecil, harus naik ke lantai dua dan berjalan di lorong sempit sebelum memasuki area restoran. Ternyata area makan restoran cukup besar, dan menu makanannya lumayan. Setelah makan malam kami pun pulang ke hotel untuk beristirahat. Hari yang cukup melelahkan tapi exciting. Beijing di pagi, siang dan sore hari, tetap saja indah....

- SW -